Halaman

Sabtu, 18 Mei 2013

Agrobisnis Industri Garam

Agrobisnis Industri Garam - Kualitas garam yang dikelola secara tradisional dapat di temukan di Jeneponto. Pengolahan yang tradisional menjadikan garam dari sini cukup diperhitungkan oleh pelaku bisnis dari luar Sulsel. Pada umumnya Garam di sini diolah kembali untuk dijadikan garam konsumsi maupun untuk garam industri, namun bahan penggunaannya tidak mengandung unsur kimia yang merusak. Lahan pembuatan garam di sini dibuat berpetak-petak secara bertingkat, sehingga bagi anda yang ingin mengetahui lebih dalam lagi cara menghasilkan dan membuat garam, Anda tinggal mengunjungi kawasan Nassara di Jeneponto. Tak lengkap rasanya jika mengunjungi Jeneponto, tanpa mencicipi coto kudanya. Aneka rasa yang disajikan akan mengundang selera dan rasa penasaran tak kala menikmati satu mangkuk panas hidangan coto kuda. Harganya pun terbilang murah, hanya Rp. 9000 Anda sudah dapat menikmatinya.

Pulau Dutungan

Pulau Dutungan adalah pulau kecil dengan pasir putih yang Indah, terletak di hampir di Kabupaten Barru (hampir memasuki wilayah perbatasan Barru-Parepare). memiliki penginapan yang cukup sederhana dan cafe di dalamnya. Jika ingin jalan-jalan mengelilingi pulau, mungkin sekitar 1 km perjalanan. Pulau ini, lumayan kaya akan floranya seperti jati, bakau, dan berbagai macam bunga yang dipelihara oleh pihak manajemen pulau. Inti dari kunjungan ke pulau ini adalah "mencari ketenangan yang sesungguhnya".

Letak

Pulau ini terletak tepatnya di Palanro, Kecamatan Mallusetasi, Kabupaten Barru, Provinsi Sulawesi Selatan

Permandian Latuppa'

Latuppa' -  Merupakan sebuah objek permandian dan lokasi pariwisata terkenal yang terletak di Palopo. Sebuah daerah yang berwilayah di ujung utara Sulawesi Selatan. Terletak berada sekitar 360 km dari kota Makassar, Memiliki letak geografis yang terdiri dari daratan rendah, pantai dan pegunungan. Latuppa yang berada sekitar 5 km dari pusat kota Palopo merupakan salah satu tujuan wisata dari warga baik itu dari kota Palopo sendiri maupun dari daerah sekitarnya.
Latuppa merupakan sebuah salah satu sungai yang membelah kota Palopo selain sungai boting. Selain dijadikan sebagai objek pariwisata, sungai Latuppa merupakan sungai yang juga memiliki peranan penting dalam menyediakan kebutuhan akan air bersih bagi warga kota Palopo. Sungai tersebut memasok seluruh kebutuhan air bersih untuk kota Palopo.

Tongkonan Beratap Batu

Tongkonan Beratap Batu - Memasuki rumah adat ini mempunyai cara tertentu yaitu pintu masuk harus diketuk dengan membenturkan kepala perlahan lahan. Tongkonan ( rumah adat khas tana toraja ) beratap batu di tana toraja yang berusia 700 tahun yang atapnya menggunakan batu. terdapat di desa banga’ kecamatan rembon kabupaten tana toraja (tator). dari kota makale bisa ditempuh dengan kendaraan motor sekitar 20 menit kearah barat. Ukuran rumah sekitar 1.5 X 2 meter. sekilas tongkonan itu biasa saja, namun jika diamati, banguna tua itu ternyata penuh nilai-nilai sejarah. selain diyakini sebagai produk budaya berumur 700 tahun,juga beratapkan batu. batu sebagai atap tonbgkonan dipahat membentuk segi empat yang tebalnya sekiktar 5 centimeter dan lebar tiga jengkal orang dewasa. pada ujung batu itu terdapt dua lubang kecil pada sisi kiri dan kanan. lubang itu sebagai tempat untuk mengikatkan tali rotan yang akan dilengketkan ke balok kerangka atap. pada bagian atas pertemuan atap antara sisi kiri dan kanan, ditutup menggunakan pecahan bambu agar air hujan tidak merembes kedalam tongkonan. batu untuk atap tongkonan tersebut diambil dari sungai yang tidak jauh dari desa tersebut. Keunikan lain dari tongkongna tersebut adalah bahwa tongkongan itu tidak menggunakan paku dalam pembangunan konstruksinya.

Upacara Adat Rambu Solo

Upacara Adat Rambu Solo sering juga disebut upacara penyempurnaan kematian, karena orang yang meninggal baru dianggap benar-benar meninggal setelah seluruh prosesi upacara ini lengkapi. Jika belum, maka orang yang meninggal tersebut hanya dianggap sebagai orang “sakit” atau “lemah”, sehingga ia tetap diperlakukan seperti halnya orang hidup, yaitu dibaringkan di tempat tidur dan diberi hidangan makanan dan minuman, bahkan selalu diajak berbicara.
Oleh karena itu, masyarakat setempat menganggap Upacara Adat Rambu Solo ini sangat penting, karena kesempurnaan upacara ini akan menentukan posisi arwah orang yang meninggal tersebut, apakah sebagai arwah gentayangan (bombo), arwah yang mencapai tingkat dewa (to-membali puang), atau menjadi dewa pelindung (deata). Upacara Rambu Solo menjadi sebuah “kewajiban”, sehingga dengan cara apapun masyarakat Tana Toraja akan mengadakannnya sebagai bentuk pengabdian kepada orang tua mereka yang meninggal dunia.
Kemeriahan upacara Rambu Solo ditentukan oleh status sosial keluarga yang meninggal, diukur dari jumlah hewan yang dikorbankan. Semakin banyak kerbau disembelih, semakin tinggi status sosialnya. Biasanya, untuk keluarga bangsawan, jumlah kerbau yang disembelih berkisar antara 24-100 ekor, sedangkan warga golongan menengah berkisar 8 ekor kerbau ditambah 50 ekor babi. Dulu, upacara ini hanya mampu dilaksanakan oleh keluarga bangsawan. Namun seiring dengan perkembangan ekonomi, strata sosial tidak lagi berdasarkan pada keturunan atau kedudukan, melainkan berdasarkan tingkat pendidikan dan kemampanan ekonomi.

Kete' Kesu

Kete' Kesu Tana Toraja, sebuah desa tradisional kecil di Kabupaten Tana Toraja (Tator), Kawasan yang terdiri dari delapan tongkonan induk, lengkap dengan lumbung beras di depan setiap tongkonan, memang menjadi salah satu tujuan wisata budaya di Tator.
Lokasinya  sekitar tiga kilometer dari jalan raya, atau setengah jam perjalanan dari Kecamatan Rantepao.  dapat menggunakan jasa mobil angkutan umum dari Rantepao atau menggunakan ojek.
Mendekati lokasi, terhampar pemandangan tongkonan yang berjejer, di sela rimbunnya pepopohonan dengan latar depan hamparan sawah menghijau. Tampak warga bersantai di rumah-rumah mereka yang letaknya di belakang barisan tongkonan. Sementara di belakang dan samping tongkonan, tampak kios kerajinan dengan perajin menyelesaikan lukisan ukir di dalam kios masing-masing.
Di Kete Kesu, dapat merasakan aroma kehidupan tradisional masyarakat Toraja. dan  deretan tongkonan, yang salah satunya konon sudah berusia sekitar 150 tahun. Salah satu penandanya, atap yang terbuat dari susunan bambu, sudah ditumbuhi tumbuhan liar. Suasana pengap , cahaya matahari samar-samar masuk dari jendela kecil dari bilik di seberang sebelah depan, yang berseberangan dengan bilik untuk meletakkan jenazah. Pada deretan tongkonan yang berjajar di Kete Kesu, tampak puluhan tanduk kerbau disusun bergantung di depan setiap tongkonan. pada di dinding samping sebelah luar, tampak pula tulang rahang yang tersisa dari kepala kerbau. sebagai penanda berapa banyak kerbau yang telah dikorbankan saat upacara kematian dilangsungkan. Kerbau menjadi hewan korban saat kematian, di samping babi. Menurut kepercayaan setempat, arwah kerbau menjadi sarana transportasi bagi arwah orang yang meninggal saat menuju puya (surga) yang letaknya di sebelah selatan.

Kerajinan Sutra

Kerajinan Sutra Wajo, Agro wisata sutra menjadi salah satu andalan di kabupaten Wajo. Tahap penanaman murbei hingga proses pembuatan kain sutera sudah lama menjadi daya tarik tersendiri bagi wisatawan yang berkunjung ke Kabupaten Wajo.







Danau Tempe

Danau Tempe  yang cukup luas (13.000 hektare) ,dangkal menjadi habitat satwa burung dan ikan air tawar. Pemukiman Masyarakat di tengah danau tempe dengan rumah terapungnya serta masyarakat Bugis sepanjang pinggiran danau yang merupakan kawasan tanah lumpur .
Danau Tempe tampak bagaikan sebuah wadah raksasa yang diapit oleh tiga kabupaten yaitu Wajo, Soppeng, dan Sidrap.
Menyaksikan terbitnya matahari di ufuk timur pada pagi hari dan terbenam di ufuk barat pada sore hari dan ditemani  beragam satwa burung seperti Belibis yang menyambar ikan-ikan yang muncul di atas permukaan air.

Gua Leang Leang

Gua Leang Leang , Wisata situs purbakala gua bersejarah di Leang Leang, Kecamatan Bantimurung, Kabupaten Maros, Provinsi Sulawesi Selatan.Gua leang leang menggambarkan  kehidupan manusia masa lampau, deretan gua-gua yang ada di hamparan pegunungan batu itu sangat menarik perhatian terutama para ilmuwan. Lokasi Goa leang leang dapat ditempuh dari Bandara Sultan Hasanuddin dengan  menggunakan angkutan umum. Dari poros jalanan utama menuju tempat itu tidak terlalu bagus, tapi pemandangan di sekitarnya sangat indah.

Gunung Buttu Kabobong

Gunung Buttu Kabobong ,disebut Juga Gunung Nona, dari kejauhan sangat mirip milik sang Nona, terletak di Kabupaten Enrekang Provinsi Sulawesi Selatan , dan terlihat dari poros jalan Makassar – Tana Toraja.
Sepanjang lereng gunung Buttu Kabobong terhampar Desa- desa  yang sangat indah.
Gunung Buttu Kabobong berada diwilayah di Desa Bambapuang kecamatan Anggeraja dengan menempuh jarak 18 km dari kota Enrekang dari arah utara menuju Tana Toraja atau sekitar 800 m diatas permukaan laut dan dapat ditempuh 20 menit perjalanan dari kota Enrekang atau 280 Km dari Kota Makassar
Kawasan  Gunung Buttu Kabobong , menawarkan panorama dan pemandangan pegunungan, bukit, dan lembah-lembah yang membuat tempat ini segar dan sejuk. menyusuri sepanjang sungai ,melihat pemandangan dari gunung-gunung dan sungai-sungai. dan menikmati matahari terbit muncul dari sisi lain kemiringan Bambapuang (1157 meter) dan matahari terbenam.
Hutan diperkaya dengan flora dan fauna. Satwa  Monyet dan Kerbau kerdil. Rusa . Anggrek dengan berbagai spesies

Kuburan Batu Lemo

Kuburan Batu Lemo Tana Toraja dapat dilihat serambi tau-tau pada dinding batu terjal, menghadap kealam terbuka . Kuburan Batu Lemo Tana Toraja
Tau-tau Kuburan Batu Lemo Tana Toraja atau patung kayu manusia kecil yang dianggap mewadahi spirit si mati terbuat dari kayu atau bambu. Secara periodik pakaiannya dapat diganti melalui upacara yang disebut Ma’nene (menghormat kepada orang tua). Lokasi Kuburan Batu Lemo Tana Toraja , Akses ke-kawasan Kuburan Batu Lemo Tana Toraja , tidak jauh dari Makale Ibu Kota Rantepao

Kuburan Bayi Kambira

Kuburan Bayi Kambira Tana Toraja - Kuburan bayi ini disebut Passiliran, Lokasi Pekuburan Bayi ini  di Kambira. Hanya Bayi yang meninggal sebelum giginya tumbuh dikuburkan di dalam sebuah lubang di pohon Tarra‘. Bayi bayai tersebut dianggap masih suci. Pilihan Pohon Tarra‘ sebagai pekuburan karena pohon ini memiliki banyak getah, yang dianggap sebagai pengganti air susu ibu. Dan mereka menganggap seakan akan bayi tersebut dikembalikan ke rahim ibunya. Dan berharap, pengembalian bayi ini ke rahim ibunya akan menyelamatkan bayi-bayi yang lahir kemudian. Pohon Tarra‘ yang menjadi pekuburan ini memiliki diameter cukup besar, sekitar 80 – 100 cm sampai 300 cm. Dibuat Lubang pada pohon untuk menguburkan bayi , yang kemudian ditutup dengan ijuk pohon enau. Pemakaman ini hanya dilakukan oleh orang Toraja pengikut Aluk Todolo (kepercayaan kepada leluhur). Pelaksanaan Upacara secara sederhana. Dan Bayi yang dikuburkan begitu saja tanpa di bungkus, ibarat bayi yang masih berada di rahim ibunya. Penempatan jenazah bayi di pohon ini, sesuai dengan strata sosial masyarakat. Makin tinggi derajat sosial keluarga itu maka makin tinggi letak bayi yang dikuburkan di batang pohon tarra. Bayi yang meninggal dunia diletakkan sesuai arah tempat tinggal keluarga yang berduka. .Setelah puluhan tahun, jenazah bayi itu akan menyatu dengan pohon dan merupakan daya tarik untuk wisatawan

Kuburan londa Tana Toraja


Kuburan londa Tana Toraja adalah kuburan pada sisi batu karang terjal , salah satu sisi dari kuburan itu berada di ketinggian dari bukit mempunyai gua yang dalam dimana peti-peti mayat di atur dan di kelompokkan berdasarkan garis keluarga.
 
 
 
 
Pemakaman Dalam Gua
Disisi lain dari puluhan tau-tau berdiri secara hidmat di balkon wajah seperti hidup mata terbuka memandang dengan penuh wibawah.

Air Terjun Mata Buntu

Air Terjun Mata Buntu - Pahatan alam yang sempurna menciptakan Air Terjun Mata Buntu di Wasuponda, Kabupaten Luwu Timur yang menakjubkan. Airnya jernih dan sejuk dari Pegunungan Verbeek melewati batu alam berelief bertingkat-tingkat menimbulkan suara gemuruh.
Kabupaten Luwu Timur dianugerahi kekayaan alam tak ternilai harganya. Selain menyimpan kekayaan mineral bernilai ekonomi tinggi, juga memiliki pesona alam yang indah menawan seperti air terjun Mata Buntu.

Soppeng Kota Kalong

Soppeng Kota Kalong - Kota Soppeng disebut Kota Kalong Wattang Soppeng dimana-mana ditemukan kalong atau kelelawar, Soppeng juga sebagai kota wisata dapat ditemukan beberapa Obyek bersejarah (Villa Yuliana, Istana Datu Soppeng, Makam Jera Lompoe) , Budaya (Rumah Adat Sao Mario, Pusat Sutra Alam Tajuncu) ,  permandian alam (Air panas Lejja, Ompo, Citta).
Ciri khas Pusat Kota Soppeng yaitu terdengar bunyi gemuruh kalong-kalong/ kelelawar saat  petang menjelang malam, beterbangan menutupi langit Kota Soppeng meninggalkan sarangnya di pepohonan tengah kota dan Pada subuh menjelang pagi, kalong-kalong itu pun kembali ke sarangnya dengan suaranya yang tetap ingar-bingar, seakan membangunkan warga sekitar untuk segera memulai aktivitasnya.

Pembuatan Perahu Pinisi

Pembuatan Perahu Pinisi - Banyak tempat pembuatan perahu pinisi di wilayah sulawesi selatan , tetapi yang sangat terkenal berlokasi di Kabupaten Bulukumba yaitu pada poros perjalan antara kota bulukumba ke pantai Tanjung Bira.Lamanya Pembuatan sebuah perahu yaitu sekitar 3 sampai dengan 6 bulan kadang-kadang lebih lama , tergantung dari kesiapan bahan dan musim. Suku Bugis Makassar adalah salah satu pewaris bangsa bahari. Banyak bukti yang menunjukkan kepiawaian mereka menguasai laut dengan perahu layar. Perantauan mereka sudah terkenal sejak beberapa abad lalu. Ditemukannya komunitas orang-orang Bugis Makassar di beberapa kota di Indonesia merupakan bukti perantauan mereka sejak dahulu.

Pantai Tanjung Bira

Pantai Tanjung Bira - merupakan pantai pasir putih yang cukup terkenal di Sulawesi Selatan. Pantai ini termasuk pantai yang bersih, tertata rapi, dan air lautnya jernih. Pantai Tanjung Bira sangat indah dan memukau dengan pasir putihnya yang lembut . Di lokasi ini baik untuk berenang, berjemur, diving dan snorkling. dapat menyaksikan matahari terbit dan terbenam di satu posisi yang sama, serta dapat menikmati keindahan dua pulau yang ada di depan pantai ini, yaitu Pulau Liukang dan Pulau Kambing. Tanjung Bira terletak di daerah ujung paling selatan Provinsi Sulawesi Selatan, tepatnya di Kecamatan Bonto Bahari, Kabupaten Bulukumba. atau sekitar 40 km dari Kota Bulu Kumba, atau 200 km dari Kota Makassar. yang dapat ditempuh dengan menggunakan kendaraan umum dengan waktu perjalanan dari Kota Makassar ke Tanjung Bira sekitar 3 atau 3,5 jam. Kawasan wisata Pantai Tanjung Bira dilengkapi dengan berbagai fasilitas, seperti restoran, penginapan, villa, bungalow, dan hotel . Di tempat ini juga terdapat persewaan perlengkapan diving dan snorkling .Bagi pengunjung yang selesai berenang di pantai, disediakan kamar mandi umum dan air tawar untuk membersihkan pasir dan air laut yang masih lengket di badan. Bagi pengunjung yang ingin berkeliling di sekitar pantai, tersedia persewaan motor  Di kawasan pantai juga terdapat pelabuhan kapal ferry yang siap mengantarkan pengunjung yang ingin berwisata selam ke Pulau Selayar

Malino Hutan Wisata

Malino Hutan Wisata adalah kawasan wisata terindah yang berada di Kabupaten Gowa. Malino juga dikenal dengan Kota Bunga , Perjalanan dari kota Makassar menuju daerah Hutan Wisata Malino ini memakan waktu sekitar 2 jam. Dengan nuansa pegunungan yang indah, hawa udara yang sejuk, barisan pohon pinus yang rindang,  menjadikannya kota kecil yang  ramai dikunjungi  utamanya pada hari-hari libur.Wisata air terjun seribu tangga, Air Terjun Takapala, Kebun Teh Nittoh, Lembah Biru dan Gunung Bawakaraeng menjadi ciri khas daripada kota Malino.Oleh-oleh khas daerah ini adalah buah Markisa, dodol ketan, Tenteng (Kacang plus Gula merah) Malino,apel,wajik, yang memiliki rasa yang khas.

Air Terjun Bantimurung

Air Terjun Bantimurung, salah satu tempat wisata yang ramai dikunjungi di Sulawesi Selatan terutama waktu libur. Obyek wisata air terjun Bantimurung ini terletak di Kota Maros , kurang lebih berjarak 140 Km dari Kota Makassar Propinsi Sulawesi Selatan. dan dapat ditempuh dengan kendaraan umum. Jika Anda ingin menikmati keindahan dan kesejukan Alam pengunungan dan kicauan burung serta kupu-kupu beraneka warna yang beterbangan , datanglah diwaktu tidak liburan.
Sebelum Anda Masuk di kawasan obyek wisata air terjun bantimurung, anda disambut dengan monumen kera sakti, Menurut cerita masyaraka bahwa disekitar kawasan masih sering sitemukan sekelompok kera yang bersahutan dan bergelantungan diatas pepohonan yang dipimpin oleh seekor kera putih. dan konon dahulu kala daerah ini dikuasai oleh se ekor kera putih yang sangat sakti. Mobil angkutan terutama mobil angkutan trek sering diserang/ dibajak oleh sekelompok kera , mereka menyerang pelintas kawasan itu untuk mencari makanan instan “Indo Mie” dan Menurut cerita teman saya, Pak Idrus namanya ,sementara mengendarai sepeda motor pulang kerumah , pernah sekali waktu di stop ditengan jalan oleh sekelompok kera yang sedang melangsungkan pesta perkawinan sepasang kera, mungkin disangkanya pengantin pria..
Didalam kawasan wisata ini terdapat pusat pelestarian Kupu-kupu..yang terbesar di Indonesia.
Juga terdapat Gua yang sangat dalam “Gua Mimpi” yang tembus ke sumber mata air terjun diatas pegunungan.

Makam Sultan Hasanuddin


Makam Sultan Hasanuddin terletak di komplek pemakaman raja-raja Gowa di Katangka Somba Opu Gowa Sulawesi Selatan. Di tempat yang sama dimakamkan pula Sultan Alauddin (Raja yang mengembangkan agama Islam pertama di Kerajaan Gowa) dan disebelah kiri depan komplek makam, terdapat lokasi tempat pelantikan raja Gowa yang bernama Batu Pallantikan.
Akses ke kawasan Makam Sultan Hasanuddin sangat dekat dari Kota Makassar ,menggunakan kendaraan darat 30 menit.
Sultan Hasanuddin (lahir di Makassar, Sulawesi Selatan, 12 Januari 1631 – meninggal di Makassar, Sulawesi Selatan, 12 Juni 1670 pada umur 39 tahun) adalah Raja Gowa ke-16 dan pahlawan nasional Indonesia yang terlahir dengan nama I Mallombasi Muhammad Bakir Daeng Mattawang Karaeng Bonto Mangepe. Setelah memeluk agama Islam, ia mendapat tambahan gelar Sultan Hasanuddin Tumenanga Ri Balla Pangkana, hanya saja lebih dikenal dengan Sultan Hasanuddin saja. Karena keberaniannya, ia dijuluki De Haantjes van Het Oosten oleh Belanda yang artinya Ayam Jantan/Jago dari Benua Timur. Ia dimakamkan di Katangka, Makassar.
Ia diangkat sebagai Pahlawan Nasional dengan Surat Keputusan Presiden No. 087/TK/1973, tanggal 6 November 1973.
Sultan Hasanuddin lahir di Makassar, merupakan putera kedua dari Sultan Malikussaid, Raja Gowa ke-16. Sultan Hasanuddin memerintah Kerajaan Gowa, ketika Belanda yang diwakili Kompeni sedang berusaha menguasai perdagangan rempah-rempah. Gowa merupakan kerajaan besar di wilayah timur Indonesia yang menguasai jalur perdagangan.
Pada tahun 1666, di bawah pimpinan Laksamana Cornelis Speelman, Kompeni berusaha menundukkan kerajaan-kerajaan kecil, tetapi belum berhasil menundukkan Gowa. Di lain pihak, setelah Sultan Hasanuddin naik takhta, ia berusaha menggabungkan kekuatan kerajaan-kerajaan kecil di Indonesia bagian timur untuk melawan Kompeni.
Pertempuran terus berlangsung, Kompeni menambah kekuatan pasukannya hingga pada akhirnya Gowa terdesak dan semakin lemah sehingga pada tanggal 18 November 1667 bersedia mengadakan Perdamaian Bungaya di Bungaya. Gowa merasa dirugikan, karena itu Sultan Hasanuddin mengadakan perlawanan lagi. Akhirnya pihak Kompeni minta bantuan tentara ke Batavia. Pertempuran kembali pecah di berbagai tempat. Hasanuddin memberikan perlawanan sengit. Bantuan tentara dari luar menambah kekuatan pasukan Kompeni, hingga akhirnya Kompeni berhasil menerobos benteng terkuat Gowa yaitu Benteng Sombaopu pada tanggal 12 Juni 1669. Sultan Hasanuddin kemudian mengundurkan diri dari takhta kerajaan dan wafat pada tanggal 12 Juni 1670.
Makam Sultan Hasanuddin terletak di komplek pemakaman raja-raja Gowa di Katangka Somba Opu Gowa Sulawesi Selatan. Di tempat yang sama dimakamkan pula Sultan Alauddin (Raja yang mengembangkan agama Islam pertama di Kerajaan Gowa) dan disebelah kiri depan komplek makam, terdapat lokasi tempat pelantikan raja Gowa yang bernama Batu Pallantikan.
Sultan Hasanuddin lahir tahun 1629, menjadi raja tahun 1652, meletakkan jabatan tahun 1668 dan wafat tanggal 12 Juni 1670. ( catatan di Makam Sultan Hasanuddin) ,Dimakamnya jg tertera nama Mallombasi Daeng Mattawang Karaeng Bonto Mangepe Mohammad Bakir yang merupakan nama kecil Sultan Hasanuddin.

Museum Balla Lompoa

Museum Balla Lompoa terletak di Jl. Sultan Hasanuddin No. 48 Sungguminasa Kabupaten Gowa Provinsi Sulawesi Selatan. Museum Balla Lompoa didirikan pada masa pemerintahan Raja Goawa XXXI , Mangngi Mangngi Daeng Mattutu pada tahun 1936 , Museum ini dulunya sebagai tempat raja-raja gowa. Balla Lompoa dalam bahasa makassar berarti rumah besar atau rumah kebesaran .Di dalam Museum Balla Lompoa terdapat berbagai macam peninggalan kerajaan termasuk benda2 pusaka, mahkota dan berbagai perhiasan berharga serta terpampang pula silsilah keluarga kerajaan gowa , mulai Raja Gowa I Tomanurunga Abad XIII sampai Raja Gowa terakhir Sultan Mohammad Abdul Kadir Aididdin A Idjo Karaeng Lalongan 1947-1957. Bangunan utama istana berukuran 60×40 meter dan ruang penerima tamu berukuran 40×4.5 meter. seluruh bangunan dan atapnya terbuat dari kayu ulin atau kayu besi. bangunan ini merupakan bangunan khas bugis yaitu berupa rumah panggung dan memiliki banyak jendela. Setiap perayaan Idul Adha, diadakan upacara adat pencucian benda-benda pusaka kerajaan.

Pantai Akkarena

Pantai Akarena adalah obyek wisata pantai terletak sejajar dengan pantai losari, kurang lebih 1 Km kearah selatan, obyek wisata pantai akarena relatif masih baru dan dibuka untuk umum sampai dengan jam 22 malam. Selain untuk menikmati pemandangan matahari terbenam sambil mandi di pantai yang sangat landai dan berpasir halus, juga dilengkapi fasilitas olah raga pantai seperti speed boat, volley pantai dan lain-lain, tempat bermain anak anak dan keluarga, kolam renang anak-anak dan tempat pemancingan ikan, arena motor cross, arena lomba / balapan permainan mobil kontrol. Makanan ringan yang tradisional atau khas makassar sampai dengan masakan sesuai selera disiapkan didalam kawasan wisata akarena ini. Setelah mata hari terbenam, masih nampak beberapa pasangan muda mudi baik yang duduk berduaan diatas bebatuan atau di dalam mobil..sambil menikmati hembusan angin mamiri , bercerita tentang apa saja dan mencicipi ” Pisang Epe ” makanan tradisonal khas Makassar. Bersebelahan Lokasi ini terlihat MTC , Pusat perbelanjaan terbesar , terindah dan megah di kawasan Indonesia Timur. Dan 100 meter kearah utara telah dibangun Wisata Hiburan dalam ruangan terbesar di Dunia Trans Studio Theme Park. dan lebih keutara lagi terhampar Pantai Losari yang sangat mempesona. Sekitar Kawasan wisata ini masih ditemukan empang air tawar yang ramai dikunjungi oleh mereka yang hobbi memancing

Benteng Somba Opu

Benteng Somba Opu , kedudukannya sama dengan Benteng Ujung Pandang. Keduanya merupakan peninggalan sejarah Sulawesi Selatan di masa lalu. Sekarang Benteng Somba Opu masih dalam proses pemugaran kembali dengan dilengkapi museum miniatur Sulawesi terletakdi sekitar lokasi benteng Somba Opu. Di tempat ini dibangun berbagai rumah adat tradisional dari semua suku bangsa di Sulawesi Selatan. Setiap rumah adat tersebut dibentuk secara artistik dan unik yang menggambarkan kekhususan filosofi budaya dari tiap-tiap suku bangsa di Sulawesi Selatan serta dapat ditemukan sebuah meriam bernama “Baluwara Agung” sepanjang 9 meter dengan berat 9.500 kg, dan sebuah museum yang berisi benda-benda bersejarah peninggalan Kesultanan Gowa. Secara arsitekturial, benteng ini berbentukpersegi empat, dengan panjang sekitar 2 kilometer, tinggi 7 hingga 8 meter, dan luasnya sekitar 1.500 hektar. Seluruh bangunan benteng dipagari dengan dinding yang cukup tebal. di dalam benteng, terdapat beberapa bangunan rumah adat Sulawesi Selatan (yang mewakili suku Bugis, Makassar, Mandar, dan Kajang). Tempat ini dijadikan pusat budaya dan sejarah. Di tempat ini pula dipusatkan kegiatan pekan sulawesi selatan yang pelaksanaannya pada bulan oktober setiap tahun. Sejarah Benteng Somba Opu dibangun oleh Sultan Gowa ke-IX yang  bernama Daeng Matanre Karaeng Tumapa‘risi‘ Kallonna pada tahun 1525. Pada pertengahan abad ke-16 , merupakan benteng utama Kerajaan Gowa, letakanya sangat strategis, beliau memerintahakan agar dindingnya di buat dari tanah liat. Bangunan ini di lanjutkan oleh Sultan Alauddin . dengan perkembangan pelabuhan Somba Opu yang sangat pesat menimbulkan kekhawatiran serangan dari luar maka benteng ini di tambah ketebalannya dan di perkuat dengan persenjataan, diperkirakan ada sekitar 280 meriam besar dan kecil dalam benteng ini.  Benteng ini menjadi pusat perdagangan dan pelabuhan  rempah-rempah yang ramai dikunjungi pedagang asing dari Asia dan Eropa. Pada tanggal 24 Juni 1669, benteng ini dikuasai oleh VOC dan kemudian dihancurkan dan terendam oleh ombak pasang. Pada tahun 1980-an, benteng ini ditemukan kembali oleh sejumlah ilmuan. Pada tahun 1990, bangunan benteng yang sudah rusak
Benteng ini terletak di Jalan Daeng Tata, Kota Makassar, Provinsi Sulawesi Selatan, Indonesia.

Benteng Fort Rotterdam


Benteng Fort Rotterdam - Salah satu benteng yang pernah dibangun dan masih terawat hingga kini (bahkan Barbara Crossette di New York Times menuliskannya sebagai the best preserved Dutch fort in Asia).  Didalam Benteng Rotterdam dibangunan Museum Negeri La Galigo yang menyimpang peninggalan  dari Tana Toraja. (La Galigo diambil dari sebuah epos yang berjudul I La Galigo. merupakan karya sastra kebanggaan orang Bugis .Nama I La Galigo adalah salah satu tokoh ahli sastra  di kerajaan Luwu dan Wajo pada abad 14 ). Pangeran Diponegoro, pemimpin perang Jawa tahun 1925-1930, pernah dibuang ke Makassar serta diasingkan selama 26 tahun di Benteng Rotterdam ini ada yang mengatakan bahwa benteng ini didirikan oleh Raja Gowa ke 10 pada tahun 1546. benteng ini di sebut juga Benteng Penyu karena bentuknya seperti Penyu tampak dari atas. Waktu itu di dalam benteng ini diadakan upacara membasuh panji panji kebesaran Gowa dengan menggunakan darah. Setelah perjanjian Bungaya benteng ini jatuh ke tangan Belanda dan oleh Speelman di sebut dengan FORT ROTTERDAM. Pada masa Jepang Benteng ini berfungsi sebagai pusat penelitian ilmiah utamnya bahasa dan penelitihan. Benteng Rotterdam letaknya di pinggir pantai Kota Makassar, berseberang dengan pelabuhan Sukarno-Hatta, serta Pelabuhan penyeberangan ke Pulau Kahyangan, kurang lebih 500 meter kearah selatan terdapat Pantai losari dan Pantai Akarena.

Pantai Losari

Pantai Losari tampak dari pesawat sesaat sebelum mendarat di Bandara Sultan Hasanuddin, Pantai Losari sangat indah ibarat untaian mutiara yang memagari gemerlapan Kota Makassar. Salah satu icon kota ini yaitu pantai losari. Keistimewaan yaitu Bersantai di Pantai Losari sambil menikmati terbenamnya matahari dan mencicipi makanan khas Makassar. Sepanjang jalan dihiasi jajanan Pisang Epe, makanan ringan khas Makassar yang terbuat dari Pisang setengah bakar yang pipih, diolesi gula merah cair dan ditaburi parutan kelapa muda.  Juga tersedia Aneka macam Es khas Makassar yaitu Es Pisang Ijo, Es Pallu Butung dan Mie Goreng Kering. Setiap pagi, dini hari pantai ini dipenuhi pengunjung berjalan santai, menikmati kesejukan pagi hari dan khususnya Minggu pagi ajang senam pagi, dan promosi atau malam minggu ajang festival atau iven-iven yang menarik dari Kota Makassar. 1 Km kearah utara dapat ditemukan Benteng Rotterdam yang sangat terkenal dengan sejarah Sulawesi Selatan dan Meseum Lagaligo. dan kearah selatan dapat ditemukan Trans Studio Theme Park dan Pantai Akarena